Gelombang Tinggi 5 Meter Ancam Pantai Selatan Cianjur, BPBD Siagakan 360 Relawan dan Larang Nelayan Melaut

Gelombang Tinggi 5 Meter Ancam Pantai Selatan Cianjur, BPBD Siagakan 360 Relawan dan Larang Nelayan Melaut
Petugas gabungan berjaga di bibir Pantai Selatan Cianjur untuk mengimbau warga tidak beraktivitas di laut saat gelombang tinggi.

CIANJUR — Kecepatan angin maksimum 25 knot yang terpantau di Perairan Cianjur dan Sukabumi menjadi pemicu utama tingginya gelombang laut selatan. Kondisi ini diperkirakan berlangsung hingga beberapa hari ke depan, sehingga aktivitas nelayan tradisional yang biasa melaut menggunakan perahu berukuran kecil sangat berisiko.

BPBD Cianjur mencatat, sejak dua hari terakhir, ketinggian ombak sempat mencapai lima meter. Angka tersebut jauh di atas batas aman bagi perahu nelayan, sehingga potensi kecelakaan laut seperti perahu terbalik atau terseret arus sangat tinggi.

Larangan Melaut dan Siaga di Titik Rawan

Larangan melaut ini tidak hanya berlaku bagi nelayan, tetapi juga bagi warga yang beraktivitas di bibir pantai. Petugas gabungan dari BPBD, TNI, Polri, dan relawan disiagakan di setiap pantai untuk memberikan imbauan langsung serta mengantisipasi jika terjadi insiden.

"Petugas dan relawan disiagakan guna mengimbau masyarakat, terutama nelayan, tidak melaut untuk sementara guna menghindari hal tidak diinginkan karena cuaca ekstrem yang diperkirakan melanda pantai selatan beberapa hari ke depan," kata Sekretaris BPBD Cianjur, Asep Sudrajat, Jumat.

Pola Angin dan Wilayah Terdampak di Jabar

Berdasarkan data Badan Meteorologi Klimatologi Geofisika (BMKG), pola angin di wilayah Jawa Barat bagian utara bergerak dari timur laut ke tenggara dengan kecepatan 6 hingga 20 knot. Sementara itu, kecepatan angin maksimum 25 knot diprediksi terjadi di perairan Sukabumi, Cianjur, dan Garut.

Kecepatan angin hingga 20 knot juga berpotensi melanda perairan Indramayu, Cirebon, Tasikmalaya, dan Pangandaran. Kondisi ini membuat seluruh pesisir selatan Jawa Barat berada dalam status waspada gelombang tinggi.

Kesiapsiagaan Relawan untuk Bencana Hidrometeorologi

Selain mengawasi aktivitas nelayan, ribuan relawan yang tersebar di setiap desa juga diminta fokus pada potensi bencana lain yang kerap menyertai musim kemarau. Kebakaran lahan menjadi perhatian utama karena cuaca kering mudah memicu api menjalar.

"Kami siagakan sekitar 25 petugas dan 360 relawan yang tersebar di setiap desa yang ada untuk melakukan pengawasan setiap hari dan membuat laporan, serta melakukan penanganan cepat ketika terjadi bencana berkoordinasi dengan aparat setempat," ujar Asep.

Masyarakat pesisir diimbau untuk terus memantau informasi resmi dari BMKG dan BPBD setempat sebelum memutuskan beraktivitas di laut. Keselamatan jiwa menjadi prioritas utama di tengah kondisi cuaca yang tidak menentu ini.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index