Buyback Obligasi AS Dorong Rupiah ke Level Terkuat 15 Bulan, Tembus Rp17.715

Buyback Obligasi AS Dorong Rupiah ke Level Terkuat 15 Bulan, Tembus Rp17.715
Rupiah menguat ke level terkuat dalam 15 bulan terakhir, menembus Rp17.715 per dolar AS pada pembukaan perdagangan Selasa (1/9).

INVESTO.CO.ID — Penguatan rupiah pada pembukaan perdagangan Selasa (1/9) ini merupakan kelanjutan dari kinerja solid sepanjang Agustus 2026. Sepanjang bulan lalu, rupiah mencatatkan apresiasi 1,56 persen secara bulanan, menjadi yang terkuat dalam 15 bulan terakhir sekaligus memutus tren pelemahan yang berlangsung sejak Februari 2026.

Persetujuan DPR Redakan Ketidakpastian Kepemimpinan BI

Faktor domestik menjadi katalis utama penguatan kurs hari ini. Komisi XI DPR resmi menyetujui Destry Damayanti sebagai Gubernur Bank Indonesia periode 2026-2031, mengakhiri spekulasi yang sempat membebani pasar sejak beberapa pekan terakhir. Kejelasan kepemimpinan bank sentral ini dinilai pelaku pasar sebagai sinyal stabilitas kebijakan moneter ke depan.

Data neraca pembayaran juga membaik. Defisit Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) kuartal II-2026 menyempit menjadi US$0,9 miliar, sementara pertumbuhan ekonomi nasional tercatat 5,29 persen secara tahunan. Dua indikator ini memperkuat fundamental nilai tukar di tengah gejolak global.

Buyback Obligasi AS Menekan Dolar, tapi Sinyal Hawkish Fed Mengganjal

Dari eksternal, koreksi indeks dolar AS dipicu langkah Departemen Keuangan AS yang menggandakan nilai pembelian kembali obligasi bertenor panjang menjadi US$4 miliar per operasi mulai September 2026. Kebijakan ini menyusul lonjakan imbal hasil Treasury tenor 30 tahun yang sempat menembus 5,337 persen, di tengah total utang pemerintah AS yang kini menembus US$40 triliun.

Namun ruang penguatan rupiah tetap terbatas. Ketua Federal Reserve Kevin Warsh dalam simposium Jackson Hole memberi sinyal hawkish, menegaskan inflasi AS belum sepenuhnya mendekati target 2 persen. Pasar merespons dengan meningkatkan spekulasi kenaikan suku bunga acuan Fed pada pertemuan September mendatang.

Analis Doo Financial Lukman Leong mengatakan rupiah diperkirakan bergerak stabil dengan potensi penguatan yang terbatas pada perdagangan hari ini.

"Rupiah diperkirakan dibuka datar dengan potensi menguat terbatas terhadap dolar AS yang terkoreksi," ujar Lukman Leong, Analis Doo Financial.

Tekanan tambahan datang dari eskalasi geopolitik Timur Tengah yang kembali mendorong harga minyak mentah naik. "Eskalasi di Timur Tengah dan harga minyak yang kembali naik ikut membebani," tambah Lukman Leong, Chief Analyst Doo Financial Futures.

Pasar Menanti Data Inflasi dan Neraca Perdagangan

Pelaku pasar saat ini memilih bersikap wait and see menjelang rilis data ekonomi domestik pekan ini. Konsensus memperkirakan inflasi tahunan akan naik dari 2,88 persen ke 3,13 persen, sementara neraca perdagangan diproyeksikan kembali defisit sekitar US$300 juta.

"Data perdagangan diperkirakan akan kembali menunjukkan defisit sekitar 300 juta dolar AS oleh lonjakan impor dari harga minyak mentah yang tinggi, yang diperkirakan naik 24 persen," ungkap Lukman.

Sepanjang perdagangan hari ini, nilai tukar rupiah diproyeksikan bergerak dalam rentang Rp17.650 hingga Rp17.800 per dolar AS. Level psikologis Rp17.700 akan menjadi area krusial yang menentukan arah pergerakan selanjutnya.

Investasi mengandung risiko.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index