INVESTO.CO.ID — Ketegangan dagang Washington-Ottawa memasuki babak baru. Negosiasi gagal mencapai kesepakatan, dan Amerika Serikat resmi memberlakukan bea masuk 50 persen untuk produk Kanada senilai sekitar US$20 miliar. Kanada menyiapkan tindakan balasan serupa mulai 8 September.
Ancaman yang lebih mengkhawatirkan industri otomotif: AS berencana mengenakan tarif 50 persen untuk mobil, truk, dan suku cadang asal Kanada mulai 1 Januari 2026. Kebijakan ini memicu reaksi keras dari UAW.
Dalam pernyataan resminya, serikat pekerja yang mewakili ratusan ribu pekerja pabrik ini menegaskan penolakan total. "UAW menolak eskalasi apa pun terhadap Kanada, negara dengan serikat pekerja dan standar ketenagakerjaan yang kuat," demikian bunyi pernyataan yang dikutip Automotive News.
Tarif Justru Mengancam Pekerja di Kedua Negara
Jaringan produksi otomotif Amerika Utara tidak bisa dipisahkan. Komponen dan kendaraan melintasi perbatasan AS-Kanada berkali-kali sebelum menjadi produk jadi. Kebijakan tarif yang agresif berpotensi memutus rantai pasok yang efisien dan memukul pekerja di kedua sisi perbatasan.
UAW menilai sikap Washington keliru. Kanada selama ini menjadi mitra utama produksi kendaraan, terutama untuk segmen mobil penumpang dan baterai kendaraan listrik. Alih-alih melindungi lapangan kerja, tarif justru berisiko memindahkan produksi ke negara dengan standar ketenagakerjaan lebih rendah.
Kereta Api AS Raup Cuan dari Biaya Tambahan Bahan Bakar
Di luar sengketa dagang, isu lain mencuat dari sektor logistik. Perusahaan kereta api seperti Union Pacific dilaporkan meraup keuntungan besar dari biaya tambahan bahan bakar (fuel surcharge) yang dibebankan ke pelanggan.
Data kuartal kedua menunjukkan Union Pacific mengumpulkan US$91,1 juta lebih banyak dari biaya tambahan dibandingkan biaya aktual bahan bakarnya. Hasilnya, perusahaan mencetak laba bersih US$83,2 juta.
Fenomena ini memicu kekhawatiran di kalangan pengirim barang. Mereka menilai biaya tambahan yang seharusnya menutup kenaikan harga BBM justru menjadi sumber profit tambahan bagi operator kereta api. Biaya ekstra itu pada akhirnya berpotensi membebani konsumen di tengah inflasi yang masih tinggi.
Lucid Recall 27.185 Unit Air di AS karena Risiko Kebakaran
Pabrikan kendaraan listrik asal Amerika, Lucid, menarik kembali 27.185 unit sedan mewah Air di Amerika Serikat. Penarikan ini dipicu temuan sirkuit lampu eksterior yang bisa mengalami panas berlebih dan meningkatkan risiko kebakaran, menurut pemberitahuan resmi National Highway Traffic Safety Administration (NHTSA) pada Jumat (28/8).
NHTSA mengimbau pemilik untuk memarkir kendaraan di luar ruangan dan menjauh dari bangunan sampai perbaikan dilakukan. Sirkuit yang bermasalah juga bisa menyebabkan lampu eksterior mati total, yang berisiko meningkatkan kecelakaan.
Lucid merespons dengan merilis pembaruan perangkat lunak over-the-air (OTA) untuk mengatasi masalah ini. Sekitar 20.719 unit telah menerima pembaruan tersebut.
Menariknya, masalah yang sepuluh tahun lalu harus diselesaikan dengan mengganti kabel fisik kini bisa diatasi lewat pembaruan perangkat lunak dari jarak jauh. Ini bukti nyata bagaimana arsitektur kendaraan modern mengubah cara pabrikan menangani cacat produksi.
CEO Porsche Pangkas 5.000 Pekerja Demi Efisiensi
Porsche mengambil langkah besar untuk merampingkan operasional perusahaan. CEO Michael Leiters memangkas 5.000 posisi pekerjaan dan menjual sejumlah unit bisnis non-inti sejak menjabat. Keputusan ini diambil di tengah tekanan persaingan ketat dari merek China yang menawarkan kendaraan dengan harga lebih kompetitif.
Langkah ini menunjukkan bahwa merek premium sekalipun tidak kebal terhadap perubahan lanskap industri otomotif global. Porsche memilih fokus pada profitabilitas dan penyederhanaan struktur bisnis ketimbang mempertahankan lini produksi yang kurang efisien.