Nilai Tukar Rupiah Tembus Rp 17.679, Pelaku Pasar Bandung Cermati Sinyal The Fed dan Konflik AS-Iran

Jumat, 04 September 2026 | 03:46:31 WIB
Rupiah menguat 84 poin ke level Rp 17.679 per dolar AS pada perdagangan hari ini.

INVESTO.CO.ID — Penguatan nilai tukar mata uang Garuda ini bersamaan dengan momen penting di bank sentral. Destry Damayanti resmi dilantik sebagai Gubernur Bank Indonesia, menjadikannya perempuan pertama yang memimpin institusi tersebut.

Dalam proses penetapannya, Destry berkomitmen untuk mempertahankan kebijakan yang responsif. Fokusnya disebutkan untuk mendukung stabilitas nilai tukar sekaligus menjaga pertumbuhan ekonomi nasional.

Pelaku pasar tampak merespons positif langkah ini. Sebelumnya, rupiah ditutup di posisi Rp 17.763 per dolar AS, dan penguatan 84 poin ini menjadi sinyal awal kepercayaan terhadap arah kebijakan moneter yang baru.

Perang AS-Iran dan Data Tenaga Kerja Menekan Dolar

Dari eksternal, ada dua faktor utama yang menahan laju dolar AS. Pertama, data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang dirilis terbaru tercatat melemah, sehingga mengurangi daya tarik mata uang Paman Sam.

Kedua, situasi geopolitik di Timur Tengah kembali memanas. Konfrontasi militer antara Amerika Serikat dan Iran meningkat drastis. Pasukan AS menyerang wilayah pesisir selatan Iran, sementara Teheran membalas dengan menyerang posisi-posisi AS di sejumlah kawasan.

"Kekhawatiran baru bahwa eskalasi konfrontasi militer antara Amerika Serikat dan Iran dapat semakin mengganggu pasokan minyak dari Timur Tengah," ujar Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi kepada Investor Daily, Kamis (3/9/2026).

Ibrahim menyebut aksi saling serang ini merupakan yang paling intens antara kedua negara sejak bulan Juli lalu.

Spekulasi Kenaikan Suku Bunga The Fed Meningkat

Di sisi lain, pasar keuangan global masih menanti kepastian arah kebijakan moneter bank sentral AS. Ketua The Fed yang baru, Kevin Warsh, mengambil sikap yang lebih tegas terhadap inflasi dalam Simposium Jackson Hole pekan lalu.

Sikap hawkish tersebut membuat para pelaku pasar berspekulasi bahwa The Fed berpotensi menaikkan suku bunga paling cepat pada pertemuan bulan September. Kenaikan suku bunga acuan AS biasanya akan menarik modal keluar dari negara berkembang dan menekan nilai tukar rupiah.

Meski begitu, untuk perdagangan hari ini, kombinasi data tenaga kerja yang lemah dan risiko perang justru membuat investor memilih wait and see. Dolar AS pun kehilangan momentum penguatannya terhadap sejumlah mata uang utama Asia, termasuk rupiah.

Ke depan, pergerakan rupiah akan sangat bergantung pada dua hal: apakah The Fed benar-benar menaikkan suku bunga bulan ini, dan sejauh mana eskalasi perang di Timur Tengah mengganggu pasokan energi global. Keduanya masih menjadi bayang-bayang yang belum hilang dari radar pasar.

Tags

Terkini

Yankees Kembali Kehilangan Aaron Judge, Masuk IL Lagi

Minggu, 20 September 2026 | 06:49:31 WIB

Steam Frame Kini Didukung Kode Lepton, Valve Buka Sumbernya

Minggu, 20 September 2026 | 05:56:01 WIB

LINK Naik 8,66 Persen, Chainlink Kini di 12,35 Dolar AS

Sabtu, 19 September 2026 | 04:50:30 WIB