Investasi

MBG Dipandang Sebagai Investasi Modal Manusia Nasional

MBG Dipandang Sebagai Investasi Modal Manusia Nasional
MBG Dipandang Sebagai Investasi Modal Manusia Nasional

JAKARTA - Fokus kebijakan pembangunan tidak selalu terlihat dari hasil cepat yang langsung terasa. 

Program Makan Bergizi Gratis diposisikan sebagai langkah strategis yang menanamkan manfaat jangka panjang bagi kualitas sumber daya manusia. Pendekatan ini menempatkan pemenuhan gizi sebagai fondasi yang menentukan kapasitas produktif generasi mendatang.

Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance Esther Sri Astuti menegaskan Program Makan Bergizi Gratis merupakan investasi strategis pembangunan sumber daya manusia. 

Dia menyatakan dampaknya lebih terasa dalam jangka panjang dibandingkan pertumbuhan ekonomi jangka pendek. Pernyataan tersebut menekankan bahwa kebijakan ini tidak diarahkan untuk menciptakan lonjakan pertumbuhan instan.

Pendekatan pembangunan yang berorientasi pada kualitas manusia membutuhkan konsistensi lintas waktu. Hasilnya baru akan terlihat ketika generasi penerima memasuki usia produktif dan terlibat aktif dalam perekonomian. Kerangka ini menempatkan gizi sebagai penentu daya saing jangka panjang.

Dasar Analitis dan Kerangka Simulasi

Hal itu disampaikan Esther berdasarkan hasil riset INDEF bekerjasama dengan United Nation, Department of Economic and Social Affairs. Esther menjelaskan bahwa hasil simulasi menggunakan Model Overlapping Generation Indonesia untuk mengukur dampak realokasi anggaran melalui MBG terhadap indikator makroekonomi. Pendekatan pemodelan ini digunakan untuk membaca dampak lintas generasi secara lebih terukur.

“MBG bukan kebijakan yang didesain untuk mendorong lonjakan pertumbuhan dalam waktu singkat. Ini adalah investasi modal manusia yang manfaatnya baru optimal ketika generasi penerima memasuki usia produktif,” kata Esther. 

Penegasan tersebut menggarisbawahi orientasi kebijakan yang bertumpu pada hasil jangka panjang. Perspektif ini menghindarkan ekspektasi berlebihan terhadap dampak makro jangka pendek.

Kerangka simulasi memberi gambaran bahwa manfaat MBG bersifat kumulatif. Dampaknya terakumulasi melalui peningkatan kesehatan, kesiapan belajar, dan produktivitas di masa depan. Dengan pendekatan tersebut, kebijakan gizi diposisikan sebagai pengungkit kualitas modal manusia.

Tantangan Gizi dan Dampak Produktivitas

Esther menjelaskan, urgensi MBG tidak dapat dilepaskan dari persoalan gizi nasional yang masih menjadi tantangan struktural. Meski angka stunting menunjukkan tren menurun dalam beberapa tahun terakhir, lajunya melambat dan masih berada di atas ambang batas rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia. Kondisi ini menunjukkan perlunya intervensi yang konsisten dan terukur.

Selain itu, masalah anemia pada ibu hamil, risiko kekurangan energi kronis, serta beban gizi ganda pada anak dan remaja juga masih tinggi di sejumlah wilayah. Kerentanan gizi ini berpotensi memengaruhi perkembangan kognitif dan fisik sejak dini. Dampaknya dapat terbawa hingga usia dewasa dan memengaruhi kapasitas produktif.

“Persoalan gizi berdampak langsung pada kualitas pendidikan dan produktivitas jangka panjang. Tanpa intervensi serius, kita akan terus menghadapi jebakan produktivitas rendah,” ujarnya. Pernyataan ini menegaskan kaitan langsung antara status gizi dan kualitas pembelajaran.

Modal Manusia dan Daya Saing Pendidikan

Ia menambahkan, posisi Indonesia dalam Human Capital Index masih tertinggal dibandingkan beberapa negara ASEAN. Kesenjangan ini mencerminkan perlunya upaya sistematis untuk memperbaiki kualitas modal manusia. Perbaikan gizi menjadi salah satu pintu masuk strategis untuk mengejar ketertinggalan tersebut.

Menurutnya, perbaikan gizi sejak dini menjadi fondasi penting untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, literasi, dan numerasi. Ketiga aspek ini selama ini menjadi pekerjaan rumah besar sektor pendidikan. Intervensi gizi membantu memastikan anak siap menerima pembelajaran secara optimal.

Kesiapan belajar yang lebih baik akan memperkuat hasil pendidikan dalam jangka panjang. Dampak tersebut berkontribusi pada peningkatan kualitas tenaga kerja di masa depan. Dengan demikian, kebijakan gizi terhubung langsung dengan agenda peningkatan daya saing nasional.

Skema Pembiayaan dan Dampak Makro

Dalam kajian INDEF, MBG dimodelkan sebagai transfer non-tunai kepada anak usia 0–18 tahun. Besaran transfer disimulasikan sekitar Rp799.371 per anak per tahun dengan harga tahun 2025. Skema ini dirancang agar manfaat gizi menjangkau kelompok usia yang paling menentukan kualitas modal manusia.

Pembiayaan diasumsikan dilakukan melalui realokasi belanja sehingga tidak menambah defisit anggaran. Pendekatan ini menempatkan efisiensi fiskal sebagai prinsip penting dalam implementasi kebijakan. Dengan demikian, keberlanjutan program tetap terjaga tanpa menambah tekanan anggaran.

Model tersebut menunjukkan bahwa intervensi gizi dapat memberikan dampak makro yang stabil dalam jangka panjang. Manfaatnya terwujud melalui peningkatan kesehatan, pendidikan, dan produktivitas. Kerangka kebijakan ini menempatkan MBG sebagai investasi sosial yang menopang pembangunan berkelanjutan.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index