Kementan Targetkan Investasi 200 Ribu Sapi di Kalteng untuk Percepat Swasembada Daging Nasional

Kamis, 19 Februari 2026 | 09:25:05 WIB
Kementan Targetkan Investasi 200 Ribu Sapi di Kalteng untuk Percepat Swasembada Daging Nasional

JAKARTA - Upaya memperkuat ketahanan pangan nasional terus dipercepat. Salah satu langkah strategis yang kini disiapkan pemerintah adalah mendorong investasi besar-besaran di sektor peternakan sapi.

Melalui pendekatan kawasan industri terpadu, Kementerian Pertanian Republik Indonesia (Kementan) membidik pengembangan populasi hingga 200 ribu ekor sapi di Kalimantan Tengah sebagai bagian dari strategi jangka panjang swasembada daging dan susu nasional.

Kementerian Pertanian (Kementan) tengah menargetkan investasi peternakan sapi skala besar di Kalimantan Tengah dengan populasi ternak hingga 200 ribu ekor yang dikembangkan dalam ekosistem terintegrasi. Hal ini sebagai bagian dari strategi memperkuat pasokan daging nasional secara berkelanjutan.

Menteri Pertanian sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional, Andi Amran Sulaiman menjelaskan langkah ini merupakan bagian dari strategi nasional untuk mempercepat swasembada daging dan susu sekaligus mengembangkn kawasan peternakan modern melalui pola kemitraan.

“Langkah ini menjadi bagian dari strategi nasional mempercepat swasembada daging dan susu sekaligus membangun sentra peternakan modern berbasis kemitraan,” kata Amran.

Strategi Nasional Percepat Swasembada Daging dan Susu

Menurut Andi Amran, Indonesia memiliki fondasi sumber daya alam yang kuat untuk mengembangkan industri peternakan sapi secara masif. Ketersediaan lahan luas dan pakan alami menjadi modal utama dalam membangun sentra produksi yang kompetitif.

Andi Amran menyebut, Indonesia memiliki sumber daya alam yang mampu mengembangkan industri sapi di negeri ini, mulai dari kesediaan lahan hingga pakan alami. Ia menyebut target investasi tersebut terbagi atas 100 ribu ekor untuk pengembangan dan 100 ribu untuk plasma.

"Indonesia ini negeri agraris. Tanahnya luas, rumput tumbuh, sumber daya ada. Yang penting bagaimana kita mengelola dengan baik dan kita buat nyaman para investor untuk bergerak cepat. Saya harap 100 ribu untuk pengembangan dan ditambah 100 ribu plasma, jadi 200 ribu," ujarnya.

Target tersebut menegaskan skala ambisi pemerintah dalam meningkatkan populasi sapi nasional, sekaligus memperkuat fondasi produksi daging dan susu dalam negeri agar tidak bergantung pada impor.

Regulasi Sederhana dan Kepastian Usaha untuk Investor

Amran menekankan bahwa percepatan swasembada tidak hanya bertumpu pada ketersediaan lahan dan ternak, tetapi juga pada iklim usaha yang kondusif. Penyederhanaan regulasi dan kepastian hukum dinilai menjadi kunci agar investasi dapat bergerak cepat.

Menurutnya, kunci percepatan ini terletak pada penyederhanaan regulasi dan kepastian usaha. Pemerintah berkomitmen menciptakan iklim investasi yang kondusif agar pelaku usaha dapat fokus membangun industri, memperluas populasi ternak, serta memperkuat hilirisasi produk.

"Indonesia adalah negeri agraris yang besar. Tanahnya subur, alamnya luas. Tapi kalau bisa dipersulit kenapa dipermudah, akhirnya kita lambat sendiri. Padahal pelihara sapi itu sederhana. Tanam rumput, sapi minum, hidup, selesai. Yang bikin ribet kadang izinnya," lanjut Amran.

Pernyataan tersebut menyoroti pentingnya reformasi birokrasi agar pengembangan industri sapi tidak terhambat proses perizinan yang berlarut-larut. Pemerintah ingin memastikan investor merasa nyaman untuk menanamkan modal dalam skala besar.

Kalteng Disiapkan Jadi Kawasan Industri Sapi Terpadu

Pengembangan kawasan terkonsentrasi di peternakan terpadu di Kabupaten Sukarama, Kalimantan Tengah sebagai sentra peternakan sapi terintegrasi skala besar yang dikembangkan di lahan seluas sekitar 40.006 hektare dengan populasi awal kurang dari 1000 ekor sapi.

“Dan menargetkan pengembangan hingga 200.000 indukan produktif,” ujarnya.

Konsep industri sapi terpadu (Integrated Cattle Industry) dijalankan dengan menggabunngkan sapi potong, sapi pperah, serta iduustri pengolahan dalam satu kawasan.

Model itu diperkuat dengan pertanian terpadu sapi, kelapa sawit, di mana penggembalaan dilakukan di area perkebunan untuk efisiensi pakan sekaligus menghasilkan pupuk organik, sehingga dapat meningkatkan nilai tambah dan kelangsungan usaha.

Ia juga mendoorong pengembangan usaha peternakan dalam skala besar dan terintegrasi agar mampu memberikan dampak yang signifikan terhadap peningkatan populasi sapi nasional. Menurutnya, dengan adanya kolaborasi antara pemerintah dan swasta harus diarahkan pada pembangunan kawasan produksi yang modern, efisien, serta berorientasi jangka panjang.

"Kalau investornya nyaman, dia akan tanam lebih besar. Tapi kalau tidak nyaman, dua kali maju, dua kali mundur. Sepuluh tahun habis di izin. Ini yang harus kita manfaatkan," tegasnya.

Dengan luas lahan mencapai puluhan ribu hektare, kawasan ini diproyeksikan menjadi model industri sapi modern berbasis integrasi hulu hingga hilir, mulai dari pembibitan, penggemukan, hingga pengolahan produk.

Skema Inti-Plasma dan Dukungan Pembiayaan Pemerintah

Dalam pelaksanaannya, pemerintah akan menerakan pola kemitraan inti-plasma. Skema itu memungkinkan perusahaan besar menjadi inti yang terjadi dengan petternak rakyat sebagai plasma.

Untuk memperluas manfaat ekonomi, pemerintah menyiapkan dukungan pembiayaan melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR) sektor pertanian dan fasilitas asuransi yang disiapkan guna menjaga keinginan usaha dan meminimalkan risiko.

“Kalau dikelola bersama, inti kuat, plasma tumbuh, maka ekonomi bergerak. Negara hadir mendukung pembiayaan dan perlindungan. Pengusaha berkembang, masyarakat ikut sejahtera,” katanya.

Melalui langkah nasional ini, Kementan menargetkan pengembangan diarahkan untuk meningkatkan populasi indukan produktif, memperkuat produksi daging dan susu, menyerap tenaga kerja lokal, serta mendorong pertumbuhan ekonomi di wilayah sekitar.

Dengan kombinasi investasi besar, kawasan industri terpadu, kemitraan inti-plasma, serta dukungan pembiayaan dan asuransi, pemerintah berharap Kalimantan Tengah dapat menjadi motor baru dalam penguatan swasembada daging nasional. Program ini tidak hanya menyasar peningkatan populasi sapi, tetapi juga membangun ekosistem industri peternakan yang modern, efisien, dan berkelanjutan.

Terkini

Panduan Olahraga Ringan Agar Puasa Tetap Nyaman

Kamis, 19 Februari 2026 | 15:42:59 WIB

Bintang Voli Vietnam Perkuat Nakhon Ratchasima Thailand

Kamis, 19 Februari 2026 | 15:42:59 WIB

Voli Jepang Soroti Aksi Memukau Farhan Halim

Kamis, 19 Februari 2026 | 15:42:59 WIB

Persaingan Ketat Liga Inggris, Arsenal Tetap Percaya Diri

Kamis, 19 Februari 2026 | 15:42:59 WIB

Liga Italia Sengit, Milan Gagal Raih Kemenangan

Kamis, 19 Februari 2026 | 15:42:58 WIB